(Doc Pascasarjana Unilak)
Nusantarareport.com, Pekanbaru — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam budaya belajar siswa. Kemudahan akses informasi melalui berbagai platform digital dinilai memberikan dampak positif, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan serius terhadap kualitas pembelajaran.
Dosen Pedagogi Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, Dr. Yogi Yunefri, M.Kom, menilai bahwa budaya belajar instan yang berkembang saat ini berpotensi melemahkan proses berpikir kritis dan analitis siswa.“Teknologi memang membuat akses informasi menjadi sangat mudah, tetapi ada kekhawatiran siswa terlalu bergantung pada informasi yang cepat dan instan tanpa memahami secara mendalam. Hal ini dapat menghambat perkembangan pemikiran kritis dan analitis mereka,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan utama dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana menciptakan lingkungan pembelajaran yang mampu mendorong deep learning atau pembelajaran mendalam di tengah budaya yang cenderung mengutamakan kecepatan dan hasil instan. Deep learning tidak sekadar berfokus pada hafalan atau pemahaman dangkal, tetapi menuntut refleksi kritis, pemahaman mendalam, serta kemampuan menerapkan pengetahuan dalam konteks yang lebih luas.
“Deep learning membutuhkan waktu, perhatian, dan keterlibatan kognitif yang
tinggi. Ini menjadi tantangan tersendiri ketika budaya belajar saat ini lebih menekankan kecepatan dan hasil akhir,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dr. Yogi menegaskan bahwa peran pendidik menjadi kunci dalam merancang strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir lebih dalam. Pendidik dituntut mampu menyusun kurikulum dan metode pembelajaran yang mengajak siswa mengeksplorasi ide secara kritis serta mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman dan situasi dunia nyata.
Dalam konteks tersebut, teknologi perlu diposisikan secara bijaksana sebagai pendukung pembelajaran bermakna, bukan sekadar alat untuk mempercepat akses informasi.
“Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses pembelajaran yang reflektif dan kontekstual, misalnya melalui diskusi interaktif, kolaborasi, simulasi, atau pembelajaran berbasis proyek yang menghubungkan teori dengan praktik,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa tanpa bimbingan pendidik dan desain kurikulum yang tepat, teknologi berisiko hanya mempercepat proses belajar tanpa memberikan dampak signifikan terhadap pengembangan keterampilan berpikir kritis dan reflektif yang dibutuhkan di abad ke-21.“Peran pendidik sangat penting dalam mengarahkan penggunaan teknologi agar siswa tidak hanya mengakses informasi, tetapi juga mampu mencerna, merefleksikan, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata,” tutupnya. (Rd/Fsy)
Aliqu justo et labore at eirmod justo sea erat diam dolor diam vero kasd
JL Kampar Gg.Kampar IV, RT.04/RW.03, Kel.Tanjung Rhu, Kec.Lima Puluh, Pekanbaru-Riau.
+62 8236 4494 652
nusantarareport2024@gmail.com
© nusantarareport.com. All Rights Reserved.