(Doc Pascasarjana Unilak)
NUSANTARAREPORT.COM, Pekanbaru- Perkembangan teknologi digital yang semakin masif turut diiringi oleh meningkatnya ancaman siber dengan tingkat kompleksitas yang terus berkembang.
Ancaman siber saat ini tidak lagi bersifat konvensional, melainkan telah berevolusi menjadi serangan yang lebih canggih, terarah, dan adaptif, seiring dengan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam berbagai modus serangan.
Ketua Program Studi Magister Komputer Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, Dr. Susandri, S.Kom., M.Kom, menjelaskan bahwa ancaman siber masa kini tidak hanya terbatas pada malware konvensional, tetapi juga mencakup pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk rekayasa sosial hingga serangan terotomasi.
“Ancaman siber telah berevolusi secara signifikan, baik dari sisi kompleksitas maupun skala. Saat ini, serangan tidak lagi bersifat teknis semata, tetapi memanfaatkan kecerdasan buatan, seperti penggunaan deepfake untuk rekayasa sosial atau malware berbasis AI yang mampu menghindari sistem deteksi tradisional,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa serangan siber juga semakin banyak menyasar rantai pasok digital (supply chain attacks), infrastruktur kritis, serta perangkat Internet of Things (IoT) yang saling terhubung. Kondisi ini menghadirkan tantangan besar karena kecepatan evolusi ancaman kerap melampaui kemampuan sistem pertahanan yang bersifat statis.

Dalam konteks tersebut, Dr. Susandri menekankan pentingnya penerapan konsep ketahanan digital (digital resilience) sebagai paradigma utama dalam pengelolaan sistem teknologi informasi.
“Ketahanan digital tidak hanya berbicara tentang pertahanan, tetapi juga kemampuan sistem dan organisasi untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih dengan cepat dari gangguan siber,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi yang adaptif dan berdaya saing. Program Magister Komputer, menurutnya, tidak hanya mentransfer pengetahuan teknis mutakhir, tetapi juga membangun pola pikir strategis dan kesadaran multidisipliner.
“Program Magister Komputer harus mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi teknis seperti security by design, analisis forensik digital, hingga pemahaman aspek hukum dan etika siber. Kurikulum perlu dirancang untuk melahirkan arsitek keamanan dan pemimpin digital yang mampu merancang sistem yang tangguh sejak awal serta memimpin transformasi digital yang aman dan berkelanjutan,” tambahnya.

Isu ketahanan digital ini menjadi perhatian penting di tengah percepatan transformasi digital lintas sektor. Melalui pendekatan akademik yang komprehensif, pendidikan tinggi diharapkan dapat berkontribusi dalam menciptakan ekosistem digital yang aman, tangguh, dan berkelanjutan.(rd/fsy
Aliqu justo et labore at eirmod justo sea erat diam dolor diam vero kasd
JL Kampar Gg.Kampar IV, RT.04/RW.03, Kel.Tanjung Rhu, Kec.Lima Puluh, Pekanbaru-Riau.
+62 8236 4494 652
nusantarareport2024@gmail.com
© nusantarareport.com. All Rights Reserved.